China Sebut AS Biang Masalah Dunia: Retorika atau Realita?
Ketegangan antara dua kekuatan besar dunia, China dan Amerika Serikat, telah memasuki babak baru yang lebih konfrontatif. Belakangan ini, Beijing tidak lagi menggunakan bahasa diplomatik yang halus saat mengkritik Washington. Melalui berbagai pernyataan resmi dari Kementerian Luar Negeri hingga media pemerintah, China secara terbuka menyebut Amerika Serikat sebagai "biang masalah" atau sumber utama instabilitas di panggung internasional. Tudingan ini bukan sekadar luapan kekesalan, melainkan bagian dari strategi narasi besar untuk menggoyahkan dominasi Barat yang telah bertahan selama hampir satu abad.
Pernyataan-pernyataan tajam tersebut muncul di tengah berbagai isu krusial, mulai dari konflik di Ukraina, ketegangan di Selat Taiwan, hingga persaingan teknologi semikonduktor. Bagi Beijing, tindakan Washington yang kerap menjatuhkan sanksi sepihak dan memperluas aliansi militer dianggap sebagai upaya putus asa untuk mempertahankan hegemoni yang mulai memudar. Di sisi lain, dunia melihat fenomena ini sebagai tanda bahwa tatanan global sedang mengalami pergeseran tektonik dari unipolaritas menuju multipolaritas.
Hegemoni yang Dipertanyakan dan Standar Ganda
Salah satu argumen utama yang dilemparkan China adalah tuduhan mengenai standar ganda Amerika Serikat dalam menerapkan hukum internasional. Beijing berpendapat bahwa "tatanan internasional berbasis aturan" (rules-based international order) yang sering didengungkan Washington sebenarnya hanyalah kedok untuk memaksakan aturan yang menguntungkan kepentingan Amerika sendiri. Dalam dokumen bertajuk "US Hegemony and Its Perils" yang dirilis oleh pemerintah China, mereka merinci bagaimana intervensi militer AS di berbagai negara telah meninggalkan jejak kehancuran, mulai dari Timur Tengah hingga Amerika Latin.
Kritik ini menyentuh titik sensitif bagi banyak negara di belahan bumi selatan (Global South). Banyak negara berkembang merasa bahwa sistem keuangan global dan lembaga internasional seperti IMF atau Bank Dunia terlalu didominasi oleh kebijakan Washington. Ketika China memposisikan diri sebagai pembela kepentingan negara berkembang, narasi "AS sebagai biang masalah" menjadi lebih mudah diterima oleh audiens internasional yang merasa terpinggirkan oleh sistem saat ini. Hal ini menciptakan polarisasi yang semakin dalam antara blok Barat dan kelompok negara yang mulai merapat ke Beijing.
Namun, jika kita melihat lebih dalam, tuduhan China ini juga berfungsi sebagai alat defensif. Dengan menyerang balik reputasi Amerika Serikat, China berusaha mengalihkan perhatian dunia dari kritik internasional terhadap kebijakan internal mereka sendiri, seperti isu hak asasi manusia di Xinjiang atau tindakan asertif mereka di Laut China Selatan. Strategi "menyerang adalah pertahanan terbaik" ini sangat efektif dalam membentuk opini publik domestik di China, sekaligus menantang legitimasi moral kepemimpinan Amerika di mata dunia.
Senjata Ekonomi dan Perang Teknologi
Aspek lain yang membuat Beijing meradang adalah penggunaan kekuatan ekonomi sebagai alat koersi politik oleh Amerika Serikat. Kebijakan sanksi yang agresif dan pembatasan ekspor teknologi tinggi, terutama chip komputer, dilihat oleh China sebagai upaya sistematis untuk menghambat kemajuan ekonomi mereka. China menyebut tindakan ini sebagai "terorisme ekonomi" yang tidak hanya merugikan mereka, tetapi juga mengganggu rantai pasok global yang sudah rapuh pasca-pandemi.
Ketergantungan dunia pada mata uang Dolar AS menjadi salah satu poin yang paling sering disorot. China, bersama dengan negara-negara BRICS lainnya, mulai mempromosikan de-dolarisasi sebagai langkah untuk mengurangi kerentanan terhadap sanksi Washington. Bagi Beijing, sistem keuangan yang berpusat pada AS adalah bom waktu yang bisa meledak kapan saja bagi stabilitas global. Oleh karena itu, mereka mempercepat pengembangan mata uang digital yuan dan sistem pembayaran alternatif untuk menandingi dominasi SWIFT.
Persaingan ini bukan lagi soal perdagangan semata, melainkan tentang siapa yang akan menguasai infrastruktur masa depan. Dari jaringan 5G hingga kecerdasan buatan, Amerika Serikat dan China sedang berada dalam perlombaan senjata digital. Tudingan China bahwa AS adalah penghambat kemajuan teknologi global merupakan respon atas kebijakan "small yard, high fence" yang diterapkan pemerintahan Joe Biden, yang bertujuan membatasi akses China terhadap teknologi kunci yang memiliki aplikasi militer.
Keamanan Global: Diplomasi vs Intervensi
Dalam ranah keamanan, China mencoba menampilkan diri sebagai mediator perdamaian yang lebih tulus dibandingkan Amerika Serikat. Keberhasilan Beijing memediasi normalisasi hubungan antara Arab Saudi dan Iran beberapa waktu lalu menjadi bukti nyata yang mereka sombongkan. China menggunakan momentum ini untuk mengontraskan pendekatan mereka yang berbasis dialog dengan pendekatan AS yang seringkali melibatkan pangkalan militer dan pengiriman senjata ke zona konflik.
Meskipun demikian, narasi China sebagai "pembawa damai" tidak sepenuhnya diterima tanpa keraguan. Banyak pengamat internasional melihat bahwa asertivitas militer China di kawasan Indo-Pasifik justru menjadi pemicu utama mengapa negara-negara tetangga seperti Jepang, Filipina, dan Australia semakin mempererat kerja sama militer dengan Amerika Serikat. Klaim wilayah yang tumpang tindih di Laut China Selatan dan ancaman terhadap kedaulatan Taiwan tetap menjadi titik api yang sewaktu-waktu bisa meledak, terlepas dari retorika damai yang diusung Beijing.
Paradoks ini menunjukkan bahwa baik China maupun Amerika Serikat sama-sama memiliki andil dalam menciptakan ketidakpastian global. Jika China menuding AS sebagai biang masalah karena intervensionismenya, dunia internasional juga mempertanyakan ambisi teritorial China yang dianggap mengancam stabilitas kawasan. Kedua negara terjebak dalam apa yang oleh para ahli hubungan internasional disebut sebagai "Perangkap Thucydides," di mana kekuatan yang sedang bangkit (China) menantang kekuatan yang sudah mapan (AS), yang seringkali berujung pada konflik besar.
Menakar Masa Depan Hubungan Dua Raksasa
Lantas, ke mana arah hubungan ini akan bermuara? Serangan retorika China terhadap Amerika Serikat tampaknya tidak akan mereda dalam waktu dekat. Sebaliknya, kita kemungkinan akan melihat eskalasi narasi yang lebih tajam seiring dengan mendekatnya tahun politik di kedua negara. Bagi kepemimpinan di Beijing, menjaga sikap keras terhadap Washington adalah cara untuk memperkuat legitimasi nasionalisme di dalam negeri dan menegaskan posisi China sebagai pemimpin baru di panggung global.
Dunia saat ini berada di persimpangan jalan yang berbahaya. Ketidakmampuan dua ekonomi terbesar dunia untuk bekerja sama dalam isu-isu eksistensial seperti perubahan iklim, pencegahan pandemi, dan regulasi kecerdasan buatan adalah ancaman nyata bagi kemanusiaan. Ketika kedua belah pihak lebih sibuk saling menyalahkan dan mencari kambing hitam atas masalah internasional, solusi kolektif yang sangat dibutuhkan justru menjadi semakin jauh dari jangkauan.
Sebagai penutup, tudingan China bahwa Amerika Serikat adalah biang masalah internasional mengandung elemen kebenaran dalam konteks kegagalan beberapa kebijakan luar negeri AS di masa lalu. Namun, menyederhanakan kompleksitas masalah dunia hanya pada satu aktor tentu tidak sepenuhnya akurat. Dinamika ini lebih merupakan cerminan dari perebutan kekuasaan yang tak terelakkan dalam transisi tatanan dunia. Tantangan bagi komunitas internasional, termasuk Indonesia, adalah bagaimana menavigasi persaingan ini tanpa harus terjebak dalam pusaran konflik yang merugikan semua pihak. Keseimbangan baru mungkin belum ditemukan, namun dialog yang jujur dan pengurangan retorika provokatif adalah langkah awal yang sangat diperlukan untuk mencegah dunia terjerumus ke dalam krisis yang lebih dalam.
Post a Comment